Sabtu, 30 April 2016
Jujur itu indah
- Karya:anak smp 2 pmk -
Sudah 15 menit aku terdiam. Termangu berfikir dengan keras. Seminggu lagi aku akan menghadapi UN. Sebenarnya untukku tidak masalah, yang masalah adalah aku bersekolah di sekolah SMP terfavorit di kotaku. Dan peraturannya, ranking 1 di setiap kelas akan diterima di SMA favorit di kotaku pula. Tanpa biaya registrasi dan keringanan untuk membayar uang SPP.
Orang tuaku ingin aku bersekolah disana. Sia sia saja jika aku ranking 2 disekolah terfavorit tetapi tidak meneruskan ke sekolah terfavorit pula. Aku bersekolah disini karena beasiswa. Dan aku tak ingin memberatkan orang tuaku dengan harus membayar uang SPP yang tentu mahal di sekolah selanjutnya. Tiada pilihan. Aku harus menjadi ranking 1. Tapi bagaimana caranya?
“jangan biarkan masalahmu merasukimu. Kau harus tenang kawan, besok kita akan menghadapi UN!” ucapan Ted meenyadarkanku dari lamunan yang sedari tadi meracuni fikiranku.
“aku baik-baik saja” jawabku
“tapi wajahmu tak mengatakan,kawan”
Aku acuh tak acuh dan segera menghabiskan minumanku karena sebentar lagi jam istirahat akan berakhir.
“hei! Aku punya ide untuk kesedihanmu!”
“dengarkan aku sekali saja, ideku ini sangat cemerlang kau tau?” Ted masih saja berbicara dan dia menunjuk nujuk kepalanya sebagai isyarat tempat ide anehnya itu bersarang.
“cepat katakanlah,Ted. Mood-ku sedang buruk hari ini. Aku tak punya waktu banyak” jawabku.
“kemarilah” dia memintaku mendekat kepadanya. Rupanya dia hendak membisikkan sesuatu.
“aku telah mengatur jaring contekan di kelas. Kau mau ikut, Natasha?”
“astaga! Apa kau sudah gila? Tentu hal itu bukanlah jawaban dari permasalahanku! Solusi yang kau ajukan adalah solusi dari orang orang yang berpikiran pendek! Ted, pergilah! Tolong berhenti menggangguku lagi, aku bosan dengan bualanmu apalagi ide gilamu itu.”
Aku kemudian melangkah pergi meninggalkan Ted.
“tapi,Nat! kau bisa mengalahkan Aruan dengan cara ini!”
“aku tidak mau! Pasti ada cara lain untuk mengalahkannya”
“baiklah, mungkin tidak untuk hari ini. Hubungi saja aku jika kau berubah fikiran”
Anak itu sudah gila. Pasti aku akan terseret ke masalah yang lebih besar jika mengikuti mereka. Tidak, nat. kau akan lulus dengan jujur!
Baiklah, sepertinya tidak ada cara lain kecuali belajar lebih keras. Sebenarnya aku cukup percaya diri untuk menjadi ranking 1 di kelas lain. Tapi di kelasku sekarang, tentu kecil kemungkinannya.
Aruan namanya. Dia musuh terberatku selama ini. Semenjak kelas 1 sampai detik ini pun aku tak pernah bisa melampauinya. Dia gadis yang sangat sempurna. Dia memang sangat cerdas, kecerdasannya seolah olah dia bukan manusia saja. Dia bisa berhitung tanpa menggunakan oretan, dia pandai mengaji, dia hafal 100 hadist, dia mampu mengerti semua materi ketika baru saja dijelaskan. Nilai nilainya pun tergolong sempurna. Hanya satu kelemahannya, dia lemah di bidang olahraga. Walaupun begitu, aspek teori di bidang olahraganya melampaui batas. Pengetahuannya melebihi guru kami. Dia tau teori tendangan pisang, teori teori yang dihubung-hubungkan dengan fisika untuk menghasilkan kemenangan dalam pertandingan. Dan mungkin satu lagi, dia sangat individualis. Aku tidak tau kenapa, dia berjalan dengan sangat anggun diantara kami, tidak terlalu mendongak ataupun menunduk. Auranya memancarkan keseganan dan kehormatan. Dengan auranya itu tentu kami khususnya aku sedikit takut untuk menyapanya. Tetapi dia sebenarnya baik, dia tak segan membantuku dan teman temanku yang lainnya jika sedang mengalami kesulitan. Terkadang jika aku sedang sendirian, dia berbicara sepatah dua kata dengan bahasa yang sangat formal denganku.
Strategi baru! Aku akan berusaha sekeras mungkin. Mottoku : tiada kata istirahat. Disekolah aku menggunakan waktuku sebaik mungkin untuk belajar hal hal yang tidak aku ketahui. Aku mengikuti pembiaan engan sebaik-baiknya. Waktu istirahat tak kuhabiskan untuk melamun lagi, tetapi pergi mengurung diri bersama buku buku di perpustakaan sekolah. Tasku menjadi berat 2 kali lipat saat pulang karena buku pinjamanku. Di rumah aku pun tak berhenti belajar. Aku gunakan waktuku untuk latihan soal.
Sibuk. Aku benar-benar sibuk. Apalagi UN sudah besok. Aku pergi ke perpustakaan kota untuk meminjam buku lebih banyak lagi. tak sengaja aku bertemu Aruan. Aku terpaku, dia tidak membaca buku untuk UN besok. Dia malah membaca novel. Aku duduk disebelahnya dengan membawa setumpuk buku.
Dia duduk dengan kaki bersilang. Tatapannya teduh membaca novel ditangannya. Seperti tiada beban dan dia tak melihat manusia dikanannya telah berjuang mati matian untuk menghadapi hari esok.
“ehhmm” aku berdehem
“jika kau sedang mempunyai masalah, jangan katakana ‘ya Allah, aku punya masalah yang sangat besar’ tetapi katakanlah ‘ya masalah, aku punya Allah yang Maha Besar’” ucapnya
Aku terdiam. Aku melupakan satu hal. Bukankah ada 3 tahapan dalam menghadapi masalah? Pertama kita harus meminta kepada yang Maha Kuasa untuk membantu kita. Kedua, kita harus berusaha sebisa mungkin untuk menghadapi masalah itu. Dan yang terakhir adalah pasrah, hasil usaha kita sudah menjadi urusan Allah. Toh kita sudah berusaha dan bukankah tidak ada hasil yang menghianati usaha?
Lalu bagaimana aku tidak terpukau pada gadis disampingku ini? Satu kalimatnya menyadarkanku dan membuatku tertegun.
“berdoalah. Aku tau kau sudah berusaha” dia tersenyum kepadaku.
“terimakasih, aruan”
Dan datanglah hari ini. Hari besar yang akan terus berlanjut sampai 4 hari kedepan. UN! Tetapi aku sudah bisa tenang, aku sudah berusaha dan berdoa!
Satu per satu soal kujawab, hari demi hari kulalui. Sampai muak aku mengerjakan latihan soal dan membaca ringkasan materi. Sampai rasanya ingin muntah aku mengulang pelajaran yang sudah dari seminggu lalu aku pelajari. Aku bertahan, aku percaya aku akan menang!
Hari ini hari rabu, tinggal selangkah lagi untuk menjalani tahap ketiga, pasrah. Tapi hari ini, ada hal yang mendebarkan. Disekolah kami, setiap sebelum ujian berakhir aka nada pengumuman peraih ranking sementara. Mungkin ditujukan untuk semakin menggemblang semangat siswa mendapatkan nilai terbaik.
Lonceng berbunyi, menandakan ujian hari ini telah berakhir. Serta menandakan pengumuman tadi telah ditempel. Aruan berjalan santai, seperti biasa, anggun dan sangat berkelas.
“selamat ya, Nathan. Kau hebat! Semoga kamu bisa mempertahankannya” ucap seorang temanku dan mereka member tepuk tangan untukku.
“selamat untuk apa?” tanyaku
“lihatlah siapa yang menjadi urutan teratas kali ini.”
Aku segera menuju papan pengumuman. Subhanallah.. Muhammad Nathan Ghiffari! Sedang aruan ada di bawahku. Skor kami hanya beda satu poin! Betapa senangnya aku dan aku semakin termotivasi untuk lebih belajar lagi.
“mereka bertanya padaku tentang siapa yang akan menempati posisi itu karena skor kita sama. Aku memberi gambaran bahwa aku masih kalah berusaha disbanding dirimu, kemudian mereka member tambahan poin itu” dia tersenyum sambil melihat papan pengumuman
“apa!? Kenapa aruan? Apa kau tidak ingin mendapat posisi itu? Kau tak ingin lulus tanpa tes di SMA favorit?”
“kau pantas mendapatkannya. Lagipula walau bukan ranking 1 disini aku bisa mengambil jalur lain untuk masuk kesana. Orang tuaku pasti tidak keberatan,”
Aku lupa. Bahwa dia anak pengusaha. Lupakanlah, aku harus belajar untuk besok. Besok adalah puncaknya. Fisika. Rasanya aku akan mampus mengahadapi fisika malam ini. Sedangkan aku terus memikirkan gadis itu, pelajaran yang paling ia kuasai adalah fisika.
Dan ketika ujian berlangsung, tanganku bergetar. Aku menggambar teta seperti cacing di oretanku. Aku tak bisa tenang. Aku mulai dihantui perasaan buruk. Kulihat disekelilingku sedang beredar kunci jawaban. Akal bulus Ted masih terus berlangsung dari awal UN sampai sekarang. Aku heran kenapa petugas tidak menyadari gelagat mereka itu. Sedang kulihat nun jauh di ujung sana, aruan sedang mengerjakan dengan tenang. Tak terpengaruh sedikitpun. Dia itu seoerti bukan manusia saja ya?
Dari 50 soal aku hanya bisa mengerjakan setengah saja. Aku menghitung berulang kali tak dapat kutemukan jawabnnya. Soal macam apa ini? Sedangkan waktu kurang 15 menit lagi. keringat dingin terus mengucur. Aku sanagt khawatir hingga otakku tak dapat berfikir jernih.
Pluk!
Secarik kertas jatuh dibangkuku. Aku membukanya
Aku tau kau sedang kesulitan. Aku kan membantumu,Nathan. Bukankah kita ini teman?
Dan dibaliknya ada kunci jawaban. Ini ide yang luar biasa gila. Tapi mau bagaimana lagi? aku sudah terjebak dan otakku sudah buntu. Petugas mengingatkan bahwa waktu ujian akan berakhir 5 menit lagi. aku segera menyalin jawabannya pada LJK ku.
Lonceng terdengar samar samar kali ini. Aku tiba tiba tak enak badan, ketika hendak berdiri mengumpulkan LJK, aku lupa mengamankan kunci jawabanku tadi. Dan kunci jawaban itu jatuh! Sedangkan petugas tepat berada di depanku!
MAMPUS!
“Nathan, apa ini?” Tanya pengawas ujian dengan nada menginterogasi
“i..ii..itu.. anu.. “
“jadi ini usahamu untuk bisa ranking 1? Sejak kapan kau jadi serendah ini Nathan? Dapat dari mana kau kunci jawaban ini? “
Aku mengutuk-ngutuk diriku kenapa harus terhasut si ted busuk itu. Aku menunduk.
“siapa yang member Nathan contekan hah?” bentak pengawas tadi
“jawab aku atau LJK kalian semua akan aku sobek!”
Astaga, aku sangat tak lihai dalam menyontek. Aku tak tau apa apa. Aku angat cerobaoh. Dan inilah hasilnya. Inilah karmaku. Siapapun tolong mengakulah, setidaknya aku ingin lulus walau tak jadi ranking 1.
“cepat berdiri! Yang menyalukan maupun yang menerima silahkan berdiri atau akan kuhanguskan lembar jawaban kalian semua dasar anak anak licik!”
Ted pun berdiri. Disusul seluruh teman sekelasku kecuali Aruan. Aku sungguh sangat malu dan kagum. Gadis ini benar benar luar biasa hebat. Kepribadiannya luar biasa. Bagaimana bisa dia begitu tenang ketika seluruh temannya sedang kesulitan mengerjakan soal fisika mengerikan tadi?
“memalukan! Akan jadi apa negeri ini! Penerus kita berbuat curang dan kita baru mengetahuinya di detik detik terakhir! Pantaskah kalian lulus dengan cara kotor ini?” pengawasku geram.
Aku tak berani menengadah. Aku sudah sangat lemas. Tenagaku sudah hamper habis. Dan akhirnya semua gelap.
Ketika aku bangun, aku melihat aruan disampingku.
“dd.. ddiimana aku?” tanyaku terbata-bata
“kau dirumah sakit. “
Aku melihat ibuku menatapku dengan cemas.
“bagaimana hasil ujianku?”
“Nathan, jika menurut Einstein ruang dan waktu adalah relativitas. Maka segala sesuatu didalamnya juga relativitas. Termasuk kebenaran. Tetapi bersyukurlah, kebenaran sudah terungkap. Mereka tau bahwa kau hanya menyontek jawaban fisika. Kalian diluluskan. Tetapi tidak diperkenankan mengirim formulir pendaftaran ke SMA Kuiran. “
“nak, kenapa kamu berubah pikiran secepat itu?ibu tau dulu kamu sangat beci hal-hal yang curang. Termasuk mencontek. Kenapa?”
Kepalaku semakin pening. Hancur semua impianku. Ceroboh sekali!!!
“tapi tenang, ada pengecualian untukmu. Kau boleh mendaftar. Mereka tau kau hanya terhasut dan mereka tau bahwa kau seenarnya siswa yang bisa”
“apa!? Aa.. aaa.. apa yang kau katakana itu benar?”
Aruan menatapku yakin. ALHAMDULILLAH.. jadi ini yang dimaksud aruan tentang kebenaran. Terima kasih, ya Allah. Cukuplah aku gagal menjadi yang terbaik asal jangan larang aku menjadi siswa SMA favorit di kotaku ini..
Tibalah hari kelulusan, teman-temanku tidak diundang untuk menghadiri perayaan ini. Hanya aku dan Aruan sebagai sang ranking 1. Dia juga menjadi best of the best dari peraih ranking 1 tahun ajaran ini. Gadis yang hebat. Dia menaiki podium dengan anggunnya, serta gaun panjangnya itu semakin menggambarkan dia sepeti seorang ratu. Sang ratu akan memberikan pidato pendeknya sebagai the best of the best student this year.
“assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”
Dialek arabnya sangat kental,
“Alhamdulillah, dan terimakasih saya pada para guru yang telah membimbing saya sehingga saya bisa berpidato seperti sekarang ini. Saya hanya ingin berbagi sekata dua kata saja, sebenarnya musuh terberat bukanlah ia yang tampak. Tetapi ia yang tersembunyi dan sebenarnya ada di dalam diri. Keegoisan, ambisi, dan kesombongan merupakan musuh terberat. Hadapi mereka dulu, kemudian tatap dunia, carilah musuhmu selanjutnya”
Tepuk tangan meriah mengakhiri pidato aruan. Kau benar aruan, sekali lagi aku lupa arti kata musuh. Nafsuku untuk menjadi ranking 1 mengantarkanku untuk menempuh segala cara agar dapat mencapainya. Sekali lagi kau benar, dan aku tak kan pernah lupa semua ucapanmu. Tentang 3 tahapan seseorang menghadapi masalah serta bagaimana kita mengenal musuh kita. Aku tersenyum dan ikut bertepuk tangan. Hari ini hari yang sangat ersejarah dalam hidupku. Tak akan pernah aku lupakan. Dan akan kujadikan sebagai cuan untuk menghadapi masa depan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar